Terjemahan

Minggu, 23 Juni 2013

Suara Burung Gagak

Cerita berikut adalah salah satu cerita saya yang pernah dimuat di Majalah Anak Mentari. Seperti cerita-cerita saya lainnya, cerita berjudul Suara Burung Gagak adalah juga cerita keseharian, namun idenya tentang mitos bagi sebagian masyarakat kita yang percaya bahwa apabila ada burung gagak berkoak-koak, maka di sekitar tempat burung itu memperdengarkan suaranya, akan ada yang meninggal dunia.

Iwan tersentak, baru saja ia selesai mandi sore, telinganya menangkap suara burung gagak yang berkoak-koak. Buru-buru Iwan menuju ruang depan. Lewat jendela kaca, nampak seekor burung berwarna hitam tengah bertengger di salah satu dahan pohon rambutan yang tumbuh di halaman salah seorang tetangganya. Burung itu terus saja memperdengarkan suaranya sebelum akhirnya terbang ke arah selatan

Sudah dua kali ini sejak kemarin, burung itu berkoak-koak di dahan pohon rambutan. Setiap mendengar koakannya, jantung Iwan langusng terkesiap. Konon kata orang, bila seekor gagak berkoak-koak adalah pertanda buruk. Di sekitar di mana burung itu berkoak-koak akan ada kematian.

Tapi Ayah bilang bahwa kepercayaan seperti itu adalah tahayul. Tidak masuk akal! Menurut Ayah, kapan datangnya kematian seseorang, tak seorang pun yang tahu. Termasuk burung gagak. "Yang tahu seseorang akan meninggal atau tidak, itu hanyalah Tuhan," lanjut Ayah.
 
"Kalau aku sih percaya!" kata Samsul, tadi di kelas, setelah Iwan bercerita perihal burung gagak itu, karena belum puas dengan jawaban Ayah. "Buktinya pamanku. Sebelum pamanku meninggal, beberapa kali seekor burung gagak berkoak-koak di sekitar rumahnya."

Iwan jadi cemas. Ia teringat Kak Adi. Kemarin ketika bermain-main di kebun belakang, seekor ular hijau menggigitnya. Sekarang ia terbaring di rumah sakit karena gigitan ular itu. Kata orang, bisa ular hijau tidak kalah ganasnya dengan bisa ular luwing yang berwarna kuning-putih. Bila tidak segera mendapatkan pertolongan, siapa pun yang digigitnya akan meninggal dunia. Seperti yang dialami Pak Sukro, tetangga Iwan beberapa bulan lalu. Jangan-jangan ... Ah! Iwan menepis pikiran buruk yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

Iwan mencoba menghalau kecemasan hatinya. Tapi kata-kata Samsul dan suara burung gagak  yang berkoak-koak terus terngiang-ngian di telinganya, membuatnya semakin membuatnya cemas. Dan ketika hari memasuki malam, kecemasannya berubah menjadi ketakutan. Apalagi mengingat sekarang ini Iwan berada di rumah seorang diri. Ayah dan Ibu masih berada di rumah sakit menunggui Kak Adi.

Untuk mengusir rasa takut, Iwan mengambil sebuah majalah. Tapi baru saja ia ingin membacanya, pintu depan ada yang mengetuk. Iwan ragu-ragu untuk membukanya.

"Iwan ... buka pintunya, ini Ibu!"

Oh, lega rasanya mendengar suara itu.

"Kenapa jam segini pintu kamu kunci?" ucap Ibu ketika pintu depan terkuak lebar.

"Ayah mana, Bu?"

"Di depan, sedang berbincang-bincang dengan Pak Ali."

"Bu, tadi burung gagak itu berkoak-koak lagi di depan rumah kita. Saya jadi takut. Jangan-jangan ini pertanda buruk bagi Kak Adi."

Ibu menggeleng-geleng. "Kenapa kamu masih percaya pada hal-hal seperti itu? Kenapa kamu masih belum percaya ucapan Ayah? Kematian itu hanya Tuhan yang tahu. Jadi tidak benar jika ada kepercayaan bila ada burung gagak berkoak-koak pertanda akan ada kematian. Itu tidak masuk akal. Kalau memang itu benar, Ibu rasa itu cuma kebetulan saja. Buktinya Kak Adi ..."

"Bagaimana dengan Kak Adi, Bu?" potong Iwan.

Ibu tersenyum. "Alhamdulillah. Dokter bilang Kak Adi besok boleh dibawa pulang ..."

"Benarkah, Bu?" Iwan girang sekali. Dan ketika Ayah muncul, Iwan langsung menanyakan perihal Kak Adi.

"Benar," jawab Ayah. "Dan sebagai ungkapan kegembiraan Ayah, besok sore, kamu, Kak Adi dan Ibu akan Ayah ajak jalan-jalan dan makan di Food Center sepuasnya, setelah itu kita nonton film di Mandala ..."

"Asyiiik!"

Pagi ini Iwan benar-benar merasa gembira. Sepanjang jalan menuju sekolah, bibirnya tak pernah lepas dari senyum. Setiba di sekolah, beberapa orang temannya disapanya dengan ramah.

"Nampaknya pagi ini kamu gembira sekali," sambut Samsul di kelas.

Iwan melebarkan senyumnya. "Hari ini aku memang gembira sekali. Kemudian ia bercerita perihal Kak Adi. "Mana buktinya kalau burung gagak itu pertanda buruk?"

Samsul tercenung. "Wan, aku minta maaf. Aku tak tahu jika kemarin kakakmu sakit gawat ..."
"Nggak pa-pa. Pokoknya sekarang aku hanya percaya ucapan ayahku ..."

Begitulah, ketika sore harinya burung gagak itu kembali bertengger di pohon rambutan sambil berkoak-koak, dalam hati Iwan mencemoohkannya. Bahkan ia sempat membayangkan andai burung itu berhasil ia tangkap, burung itu akan dimasukkan ke dalam sangkar. Pasti akan jadi tontonan yang menarik. Ada burung gagak dalam sangkar!

Tok tok tok!

Iwan terssadar dari lamunannya. Ia segera bangkit menuju pintu depan. Iwan terkejut ada dua orang polisi datang ke rumahnya.

"Benar ini rumah Pak Imam?" tanya salah seorang.

Belum sempat Iwan menjawab, Ibu muncul dari ruang tengah. "Ada apa, Pak?"

"Begini, Bu. Saya harap Ibu tabah menerima berita ini. Beberapa puluh menit yang lalu, Pak Imam mengalami kecelakaan. Motornya bertabrakan dengan truk ..."
 
Ibu dan Iwan sangat kaget. Wajah Ibu pucat seketika. "Bagaimana keadaannya, Pak?"
 
"Sebaiknya Ibu ke rumah sakit sekarang."

Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Ibu, Kak Adi dan Iwan saling membisu. Mereka sama berdoa untuk keselamatan Ayah. Namun berkehendak lain. Ayah meninggal di rumah sakit sesaat sebelum mereka tiba karena luka parah yang dideritanya.

Seperti Ibu dan kak Adi, Iwan tak kuasa membendung tangisnya. Dan suara burung gagak yang berkoak-koak tiba-tiba terngiang-ngiang di benaknya. 

Asal-Usul Menyapa


Berpegangan tangan atau bersalaman konon kata orang berasal dari kebiasaan simpanse. Monyet terpandai ini biasanya mengulurkan tangan minta ijin mengambil makanan di `dapur umum` kelompok simpanse. Sebagai jawabannya, kepala kelompok, biasanya yang tertua, juga akan mengulurkan tangan, mengajak berjabat tangan tanda setuju. Setelah itu baru boleh makan.

Di Negara-Negara Arab
Orang Arab bertemu, mereka akan saling menyapa dengan cara menempelkan hidung mereka sambil bertukar kata penuh harapan, seperti, "Semoga hari ini hari baikmu!" atau "Hanya kehendak Allah-lah yang terjadi!" serta "Semoga Allah memberkatimu!".

Di polandia
Kebiasannya hampir sama. Mereka saling menyapa dengan mengatakan, "Terpujilah Tuhan Yang Maha Besar!"

Di Cina
Bila dua orang cina bertemu, mereka akan menangkupkan kedua kepalan tangannya sambil menggerak-gerakannya dan sedikit menundukkan kepala, lalu mengucapkan, "Tsin, tsin!". Kebiasaan lain adalah langsung bertanya ke soal makan seperti, "Kau sudah makan nasi?" atau "Apakah perutmu sudah kenyang?"

Di Eropa
Orang Italia menyapa dengan melambaikan tangan dan cukup dengan berkata, "Apa kabar?". Sedang orang Jerman tak begitu suka dengan basa-basi. Tapi kadang mereka hanya bertanya, 'Bagaimana kabarmu?" Kalau bangsa Inggris lain lagi, mereka akan bertanya tentang keluarga atau tentang pekerjaan.

Di Yunani
Mungkin aneh, tapi kebiasaan orang Yunani ini barangkali sangat dipengaruhi oleh alam yang dikelilingi lautan, yaitu menyemprotkan air di kepala. Pelan, tentu saja, dan menyenangkan karena cukup memberi kesegaran di tengah cuaca yang sedang panas menyengat.

Di Jepang
Bila dua orang jepang bertemu, mereka akan berhenti sebentar sambil membungkukkan badan rendah-rendah untuk saling menyapa. Kalau bertemu di dalam rumah, mereka akan mencopot sepatu kain sebelum membungkuk, kemudian duduk di atas tikar `tatami` untuk minum teh.

Di Ghana
Kaum wanita di tanjung emas ini biasanya menggunakan sisir yang berbentuk seperti garpu, bergigi dua dan runcing. Nah, kalau bertemu kawan, mereka akan mencabut sisir dari rambut, mengangkatnya sambil melambai-lambaikan. Mungkin ini mengikuti kebiasaan orang Eropa yang melambaikan topinya bila bertemu kawan

Di Mesir
Dulu orang Mesir akan mengangkat kedua tangannya kalau bertemu kawan. Karena daerah ini panas sekali, maka keringat merupakan bahan pembicaraan utama dalam setiap perjumpaan. "Bagaimana keadaanmu?", "Sudah berkeringat?", atau "Keringatmu keluar banyak?".

Di Tibet
Kebiasaan yang agak aneh juga. Bila berjumpa dengan teman, orang Tibet akan menjulurkan lidahnya keluar sambil menempelkan hidungnya ke hidung kawan. Tapi kita jangan meniru kebiasaan ini ya ... hik!

Di Chili
Ini baru benar-benar menghormati kawan. Di daerah Cape Hora, Chili bagian selatan, ada kebiasaan siapa yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua atau yang dimuliakan dengan tiarap di depannya sambil mencium kakinya!

Di Soviet

Biasanya orang Soviet kalau bertemu dengan kawannya akan mengangkat tangannya lurus ke atas. Tapi kalau itu teman baik, bisa lebih akrab lagi, yaitu dengan cara mencium dan saling berangkulan.

Di Filipina
Di Kepulauan Micronesia, penduduk aslinya biasanya akan mengangkat kaki ke atas ke muka kawan. Ini kalau kawan dekat. Tapi jangan coba-coba melakukannya terhadap orang tua atau yang dihormati.

Semua itu adalah kebiasaan masa lalu. Sekarang, bila saling bertemu cukup dengan bersalaman saja. Tahu tidak, seorang bangsa Perancis bernama Jean Claude Antoin memecahkan rekor bersalaman dengan 15.162 orang dalam 9 jam! (Dikutip dari Majalah Anak Mentari/Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)

Sabtu, 22 Juni 2013

Orgasme Bikin Awet Muda

Setiap orang pasti menginginkan awet muda. Banyak cara dilakukan agar tetap awet muda. Dari rajin berolahraga hingga pergi ke salon-salon kecantikan Tapi ada satu cara lagi agar tetap awet muda. Yaitu dengan orgasme!

Hasil penelitian para pakar seks Inggris menyatakan bahwa mereka yang sering mengalami orgasme (puncak kenikmatan sewaktu bersenggama) dalam hubungan intim dengan pasangan hidupnya cenderung awet muda. Hal ini juga diakui oleh konsultan seks dan ahli kebidanan Dr Boyke Dia Nugraha, yang menyatakan bahwa melakukan hubungan seks dengan pasangan hidup hingga mencapai orgasme dapat membuat  mereka  nampak lebih muda 2-3 tahun dari usia yang sebenarnya.

Dr Boyke yang sejalan dengan hasil penelitian ahli Inggris, lebih jauh menegaskan bahwa hubungan seks secara sehat dapat menyebabkan tubuh sehat. Kondisi ini tentu saja secara langsung dikarenakan pada saat orgasme pembuluh darah melebar dan kerak-kerak kolesterol menjadi rendah.

"Kontraksi pembuluh darah menyebabkan seluruh organ teraliri darah. Karena itu dengan orgasme kulit akan menjadi halus. Selain itu, makin sering suami-istri orgasme, maka peluang panjang umur juga besar," paparnya.
  
Orgasme bukan saja menguntungkan kondisi fisik semata, melainkan juga psikis suami-istri. Hal ini terjadi karena saat orgasme mereka merasa lega dan terbebas dari beban masalah.

"Mereka merasa di awang-awang dan hal ini merupakan suatu kenikmatan yang tiada taranya sehingga manusia merasa sehat dan segar," tambahnya.

Tapi Dr Boyke mengingatkan bahwa kondisi seperti hanya berlaku bagi pasangan yang hidup bersama dan terikat tali pernikahan. Bukan mereka yang `kumpul kebo` atau mereka yang suka melakukan hubungan seks bebas.

"Bagi mereka yang hidup dalam seks bebas bukan kenikmatan yang sebenarnya yang mereka dapatkan, melainkan kesengsaraan. Ini tak bisa dihindari karena di saat mereka melakukan hubungan seks, pihak lelaki atau wanitanya selalu dalam kondisi was-was!" begitu alasan Dr Boyke.

Hal itu menyebabkan mereka merasa tak tenang dan stres. Kondisi ini mengakibatkan mereka sering gelisah dan gampang marah. "Keadaan ini bukan menyebabkan hidup mereka menjadi lebih baik, sebaliknya malah mengalami ketegangan dan hal ini pada akhirnya akan mengganggu kesehatan fisik mereka," tegasnya lagi.

Lebih lanjut Dr Boyke menambahkan bahwa pria yang sering orgasme, tidak akan menyebabkan kuantitas dan kualitas sperma turun. "Justru sebaliknya, kuantitas dan kualitas sperma mereka makin bagus!" (Disarikan dari Tabloid Kiat Sehat/Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)

Jumat, 21 Juni 2013

Siapa Mandi Tengah Malam?

Cerita berikut adalah salah satu cerita misteri saya yang pernah dimuat Majalah Liberty. Berbeda dengan cerita-cerita misteri saya lainnya, cerita dengan judul Siapa Mandi Tengah Malam? adalah cerita yang idenya berdasarkan pengalaman saya ketika tinggal disebuah rumah
kontrakan, di mana rumah tersebut ternyata berhantu.
    
Sebenarnya kami sangat menyukai rumah kontrakan yang kami tempati sekarang. Selain terletak di kawasan perumahan, juga karena tidak jauh dari tempat kerja suamiku dan sekolah kedua anakku. Tapi karena rumah itu akan ditempati sendiri oleh pemiliknya, maka sebulan sebelum habis masa kontrak, kami harus mencari rumah kontrakan yang baru. Melalui salah seorang teman Mas Eko, kami pun segera mendapat rumah kontrakan itu.

Namun kedua anakku tidak menyukai rumah itu. Selain terletak di daerah pinggiran, rumah itu bergaya kuno dan tampak sangat menyeramkan. Atapnya yang tinggi dengan tiang-tiang penyangga yang besar, mengingatkan kami pada kastil yang ada di film-film horor. Namun karena rumah itu berukuran besar dan harga kontraknya murah, maka dengan senang hati Mas Eko mengambil rumah tersebut sebagai tempat tinggal kami yang baru. Tapi tentu saja setelah membujuk anak-anakku.

"Awas ya kalau Ayah ingkar janji," ancam Iwan, anak sulungku yang baru duduk di bangku SMP.

"Iya, Ayah tidak ingkar janji. Memang selama ini Ayah pernah ingkar janji?" jawab Mas Eko dengan senyum khasnya.

"Pokoknya kalau Ayah tidak mau membelikan playstation, aku dan Kak Iwan tidak mau sekolah!" sahut Endi, adik Iwan yang masih duduk di bangku kelas V SD.

"Kalau tidak mau sekolah yang rugi siapa?" Mas Eko menanggapi ucapan Endi dengan nada menggoda.

"Biar! Pokoknya aku dan Kak Iwan tidak mau sekolah!" teriak Endi.

"Sudah, sudah," kataku menengahi. "Ayah pasti memenuhi syarat yang kalian minta."

Keadaan rumah itu sangat menyedihkan. Berdebu, dan sarang laba-laba banyak bergelantungan di sudut-sudut ruangan. Sementara di halamannya yang luas, sesemakan dan rumput-rumput liar tumbuh dengan lebatnya. Maklum, sejak pengontrak sebelumnya meninggalkannya empat bulan lalu, pemilik rumah itu terlalu sibuk dengan urusannya, sehingga tak punya waktu untuk merawat rumah itu. Karena itu itu sebelum menempatinya, kami harus melakukan kerja bakti terlebih dahulu. Mas Eko membabati semua tumbuhan liar dengan cangkul dan sabit. Sedangkan aku dan kedua anakku membersihkan sarang laba-laba dan debu yang menempel di jendela dan pintu, juga mengepel lantai secara beramai-ramai. Melelahkan sekali!

Setelah rumah bersih, aku segera pergi ke kamar mandi. Sambil berdendang riang, kuguyur tubuhku dengan air. Hmmm segarnya!

"Bu, cepetan dong!" Endi berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

"Sebentar!" jawabku sambil mengguyur badan.

Sekarang badanku benar-benar terasa segar. Setelah mengenakan pakaian, kubuka pintu kamar mandi. Klek klek ...kok, pintunya nggak  bisa dibuka.

"Bu, cepetan! Gimana sih Ibu ini!" Endi kembali berteriak.

"Pintunya nggak bisa dibuka!" sahutku. Heran, padahal kuncinya sudah kulepas.

"Kalau pintunya Ibu kunci tentu saja nggak bisa dibuka!"

"Ada apa, Ndi?" kudenar suara Mas Eko.

"Nggak tahu, kata Ibu pintunya nggak bisa dibuka."

"Mas, tolongin nih ...!" Aku mulai panik. Setelah beberapi kali kutarik gagang pintu dengan sekuat tenaga, pintu itu tak juga bisa dibuka.

Mas Eko mulai berusaha membuka pintu kamar mandi. Tampak dari selotnya yang kemudian nampak bergerak naik-turun, lalu disusul sedikit bergerak maju-mundur karena didorong.

"Nggak bisa! Terpaksa kita harus merusak pintu ini!" kata Mas Eko terdengar agak ngos-ngosan. "Ndi, coba ambil linggis di depan!"

Klek! Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari dalam pintu dan ... pintu itu terbuka sendiri!

"Aneh sekali," gumamku sambil melangkah keluar. "Jangan-jangan ..."

"Endi, cepat mandi. Setelah itu gantian Ayah!" potong suamiku.

Setelah Endi masuk kamar mandi, Mas Eko menarik tanganku. "Jangan membuat mereka ketakutan," katanya setengah berbisik.

"Tapi ini memang aneh sekali, Mas ..."

"Aku tahu, tapi kita harus menyembunyikan ini di depan anak-anak. Kecuali jika kamu ingin mereka tidak mau tinggal di rumah ini. Siapa yang susah? Ingat, kita sudah membayar uang kontrakan ini. Sesuai perjanjian, bila kita yang membatalkan, maka separuh dari uang yang telah kita serahkan akan hilang. Ibu mau itu?"

Hatiku sedikit terhibur, karena kejadian seperti itu hanya aku yang mengalaminya. Akhirnya aku menganggap apa yang kualami itu hanyalah hal biasa. Bukan seperti yang aku takutkan.

Hari Minggu berikutnya kami sudah menempati rumah kontrakan itu. Endi dan Iwan menempati kamar yang bersebelahan dengan ruang tengah, dekat kamar mandi. Sedangkan kamar yanga berada di samping kiri ruang tamu aku tempati bersama Mas Eko. Sementara, kamar  satunya yang terletak di dekat tangga loteng, sengaja kami biarkan kosong.

Setelah acara Berita Malam di TVRI, Mas Eko mengajakku tidur. Endi dan Iwan sudah masuk ke kamarnya satu jam yang lalu. Ini adalah malam pertama kami menempati rumah kontrakan. Hampir seharian aku dan Mas Eko menata rumah. Capek sekali! Makanya begitu mencium bau bantal, kami pun segera tertelap ke alam mimpi.

Aku terbangun oleh suara berisik yang berasal dari kamar mandi. Suara orang yang sedang mandi. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 1 lebih 10 menit. Siapa yang mandi di tengah malam begini? Endi atau Iwan rasanya tidak mungkin. Mereka tidak pernah mandi di waktu larut malam, apalagi dalam suhu yang dingin begini.

Mas Eko juga terbangun. Di malam yang hening seperti ini, suara dari kamar mandi itu terdengar  keras sekali. "Siapa sih yang di kamar mandi itu?" gumam mas Eko. "Malam-malam kok mandi. Coba Ibu lihat!"

"Ayah saja."

Suara itu sudah tak terdengar lagi. Mas Eko keluar kamar. Mendadak aku dicekam rasa takut yang amat sasngat. Segera kususul suamiku.

Pintu kamar anak-anakku tertutup rapat. Mas Eko membukanya. Nampak Endi dan Iwan tidur nyenyak sekali. Tak ada tanda-tanda sedikit pun jika mereka baru saja dari kamar mandi. Mas Eko memandangku sejenak, lalu melangkah ke arah kamar mandi. Mas Eko menyalakan listrik kamar mandi dan melihat ke dalam. Lantai porselin itu nampak kering! Aku dan Mas Eko kembali berpandangan. Segera saja kutarik lengan Mas Eko untuk kembali ke kamar tidur.
"Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian yang kualami dulu. Aku takut, Yah," kataku lirih sambil memeluk dada Mas Eko dan membenamkan wajah ke pundaknya..

"Tenanglah, besok aku akan menemui Pak Imam," Mas Eko berkata tenang. Tak ada nada ketakutan dari suaranya.

Kejadian aneh itu membuatku tak bisa memejamkan mata lagi. Pikiranku terus tertuju ke kamar mandi. Berkali-kali aku merengek-rengek agar Mas Eko tidak tidur lagi.

"Dulu Pak Imam membeli rumah ini dari seseorang yang sekarang tinggal di Kalimantan ikut anaknya. Pak Imam bilang kalau rumah ini memang ada hantunya," cerita Mas Eko sepulang dari rumah Pak Imam, pemilik rumah yang kami kontrak itu. Mendengar itu bulu kudukku langsung bergidik. "Tapi Ibu jangan takut, Ia tak suka mengganggu. Kalau pun mengganggu, paling cuma pada hari-hari pertama kita menempati rumah ini. Semua yang menempati rumah ini katanya juga pernah mengalami seperti yang kita alami semalam. Termasuk Pak Imam sendiri. Mungkin ini sebagai perkenalan ..."

Benar. Setelah peristiwa itu kami memang tidak pernah mengalami kejadian aneh lagi. Meski begitu, aku masih suka merasa ngeri bila berada di kamar mandi. Apalagi malam hari, aku tidak berani ke sana sendirian. (Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)