Cerita berikut adalah salah satu cerita saya yang pernah dimuat di Majalah Anak Mentari. Seperti cerita-cerita saya lainnya, cerita berjudul Suara Burung Gagak adalah juga cerita keseharian, namun idenya tentang mitos bagi sebagian masyarakat kita yang percaya bahwa apabila ada burung gagak berkoak-koak, maka di sekitar tempat burung itu memperdengarkan suaranya, akan ada yang meninggal dunia.
Iwan tersentak, baru saja ia selesai mandi sore, telinganya menangkap suara burung gagak yang berkoak-koak. Buru-buru Iwan menuju ruang depan. Lewat jendela kaca, nampak seekor burung berwarna hitam tengah bertengger di salah satu dahan pohon rambutan yang tumbuh di halaman salah seorang tetangganya. Burung itu terus saja memperdengarkan suaranya sebelum akhirnya terbang ke arah selatan
Sudah dua kali ini sejak kemarin, burung itu berkoak-koak di dahan pohon rambutan. Setiap mendengar koakannya, jantung Iwan langusng terkesiap. Konon kata orang, bila seekor gagak berkoak-koak adalah pertanda buruk. Di sekitar di mana burung itu berkoak-koak akan ada kematian.
Tapi Ayah bilang bahwa kepercayaan seperti itu adalah tahayul. Tidak masuk akal! Menurut Ayah, kapan datangnya kematian seseorang, tak seorang pun yang tahu. Termasuk burung gagak. "Yang tahu seseorang akan meninggal atau tidak, itu hanyalah Tuhan," lanjut Ayah.
"Kalau aku sih percaya!" kata Samsul, tadi di kelas, setelah Iwan bercerita perihal burung gagak itu, karena belum puas dengan jawaban Ayah. "Buktinya pamanku. Sebelum pamanku meninggal, beberapa kali seekor burung gagak berkoak-koak di sekitar rumahnya."
Iwan jadi cemas. Ia teringat Kak Adi. Kemarin ketika bermain-main di kebun belakang, seekor ular hijau menggigitnya. Sekarang ia terbaring di rumah sakit karena gigitan ular itu. Kata orang, bisa ular hijau tidak kalah ganasnya dengan bisa ular luwing yang berwarna kuning-putih. Bila tidak segera mendapatkan pertolongan, siapa pun yang digigitnya akan meninggal dunia. Seperti yang dialami Pak Sukro, tetangga Iwan beberapa bulan lalu. Jangan-jangan ... Ah! Iwan menepis pikiran buruk yang tiba-tiba melintas di kepalanya.
Iwan mencoba menghalau kecemasan hatinya. Tapi kata-kata Samsul dan suara burung gagak yang berkoak-koak terus terngiang-ngian di telinganya, membuatnya semakin membuatnya cemas. Dan ketika hari memasuki malam, kecemasannya berubah menjadi ketakutan. Apalagi mengingat sekarang ini Iwan berada di rumah seorang diri. Ayah dan Ibu masih berada di rumah sakit menunggui Kak Adi.
Untuk mengusir rasa takut, Iwan mengambil sebuah majalah. Tapi baru saja ia ingin membacanya, pintu depan ada yang mengetuk. Iwan ragu-ragu untuk membukanya.
"Iwan ... buka pintunya, ini Ibu!"
Oh, lega rasanya mendengar suara itu.
"Kenapa jam segini pintu kamu kunci?" ucap Ibu ketika pintu depan terkuak lebar.
"Ayah mana, Bu?"
"Di depan, sedang berbincang-bincang dengan Pak Ali."
"Bu, tadi burung gagak itu berkoak-koak lagi di depan rumah kita. Saya jadi takut. Jangan-jangan ini pertanda buruk bagi Kak Adi."
Ibu menggeleng-geleng. "Kenapa kamu masih percaya pada hal-hal seperti itu? Kenapa kamu masih belum percaya ucapan Ayah? Kematian itu hanya Tuhan yang tahu. Jadi tidak benar jika ada kepercayaan bila ada burung gagak berkoak-koak pertanda akan ada kematian. Itu tidak masuk akal. Kalau memang itu benar, Ibu rasa itu cuma kebetulan saja. Buktinya Kak Adi ..."
"Bagaimana dengan Kak Adi, Bu?" potong Iwan.
Ibu tersenyum. "Alhamdulillah. Dokter bilang Kak Adi besok boleh dibawa pulang ..."
"Benarkah, Bu?" Iwan girang sekali. Dan ketika Ayah muncul, Iwan langsung menanyakan perihal Kak Adi.
"Benar," jawab Ayah. "Dan sebagai ungkapan kegembiraan Ayah, besok sore, kamu, Kak Adi dan Ibu akan Ayah ajak jalan-jalan dan makan di Food Center sepuasnya, setelah itu kita nonton film di Mandala ..."
"Asyiiik!"
Pagi ini Iwan benar-benar merasa gembira. Sepanjang jalan menuju sekolah, bibirnya tak pernah lepas dari senyum. Setiba di sekolah, beberapa orang temannya disapanya dengan ramah.
"Nampaknya pagi ini kamu gembira sekali," sambut Samsul di kelas.
Iwan melebarkan senyumnya. "Hari ini aku memang gembira sekali. Kemudian ia bercerita perihal Kak Adi. "Mana buktinya kalau burung gagak itu pertanda buruk?"
Samsul tercenung. "Wan, aku minta maaf. Aku tak tahu jika kemarin kakakmu sakit gawat ..."
"Nggak pa-pa. Pokoknya sekarang aku hanya percaya ucapan ayahku ..."
Begitulah, ketika sore harinya burung gagak itu kembali bertengger di pohon rambutan sambil berkoak-koak, dalam hati Iwan mencemoohkannya. Bahkan ia sempat membayangkan andai burung itu berhasil ia tangkap, burung itu akan dimasukkan ke dalam sangkar. Pasti akan jadi tontonan yang menarik. Ada burung gagak dalam sangkar!
Tok tok tok!
Iwan terssadar dari lamunannya. Ia segera bangkit menuju pintu depan. Iwan terkejut ada dua orang polisi datang ke rumahnya.
"Benar ini rumah Pak Imam?" tanya salah seorang.
Belum sempat Iwan menjawab, Ibu muncul dari ruang tengah. "Ada apa, Pak?"
"Begini, Bu. Saya harap Ibu tabah menerima berita ini. Beberapa puluh menit yang lalu, Pak Imam mengalami kecelakaan. Motornya bertabrakan dengan truk ..."
Ibu dan Iwan sangat kaget. Wajah Ibu pucat seketika. "Bagaimana keadaannya, Pak?"
"Sebaiknya Ibu ke rumah sakit sekarang."
Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Ibu, Kak Adi dan Iwan saling membisu. Mereka sama berdoa untuk keselamatan Ayah. Namun berkehendak lain. Ayah meninggal di rumah sakit sesaat sebelum mereka tiba karena luka parah yang dideritanya.
Seperti Ibu dan kak Adi, Iwan tak kuasa membendung tangisnya. Dan suara burung gagak yang berkoak-koak tiba-tiba terngiang-ngiang di benaknya.





