Terjemahan

Jumat, 21 Juni 2013

Siapa Mandi Tengah Malam?

Cerita berikut adalah salah satu cerita misteri saya yang pernah dimuat Majalah Liberty. Berbeda dengan cerita-cerita misteri saya lainnya, cerita dengan judul Siapa Mandi Tengah Malam? adalah cerita yang idenya berdasarkan pengalaman saya ketika tinggal disebuah rumah
kontrakan, di mana rumah tersebut ternyata berhantu.
    
Sebenarnya kami sangat menyukai rumah kontrakan yang kami tempati sekarang. Selain terletak di kawasan perumahan, juga karena tidak jauh dari tempat kerja suamiku dan sekolah kedua anakku. Tapi karena rumah itu akan ditempati sendiri oleh pemiliknya, maka sebulan sebelum habis masa kontrak, kami harus mencari rumah kontrakan yang baru. Melalui salah seorang teman Mas Eko, kami pun segera mendapat rumah kontrakan itu.

Namun kedua anakku tidak menyukai rumah itu. Selain terletak di daerah pinggiran, rumah itu bergaya kuno dan tampak sangat menyeramkan. Atapnya yang tinggi dengan tiang-tiang penyangga yang besar, mengingatkan kami pada kastil yang ada di film-film horor. Namun karena rumah itu berukuran besar dan harga kontraknya murah, maka dengan senang hati Mas Eko mengambil rumah tersebut sebagai tempat tinggal kami yang baru. Tapi tentu saja setelah membujuk anak-anakku.

"Awas ya kalau Ayah ingkar janji," ancam Iwan, anak sulungku yang baru duduk di bangku SMP.

"Iya, Ayah tidak ingkar janji. Memang selama ini Ayah pernah ingkar janji?" jawab Mas Eko dengan senyum khasnya.

"Pokoknya kalau Ayah tidak mau membelikan playstation, aku dan Kak Iwan tidak mau sekolah!" sahut Endi, adik Iwan yang masih duduk di bangku kelas V SD.

"Kalau tidak mau sekolah yang rugi siapa?" Mas Eko menanggapi ucapan Endi dengan nada menggoda.

"Biar! Pokoknya aku dan Kak Iwan tidak mau sekolah!" teriak Endi.

"Sudah, sudah," kataku menengahi. "Ayah pasti memenuhi syarat yang kalian minta."

Keadaan rumah itu sangat menyedihkan. Berdebu, dan sarang laba-laba banyak bergelantungan di sudut-sudut ruangan. Sementara di halamannya yang luas, sesemakan dan rumput-rumput liar tumbuh dengan lebatnya. Maklum, sejak pengontrak sebelumnya meninggalkannya empat bulan lalu, pemilik rumah itu terlalu sibuk dengan urusannya, sehingga tak punya waktu untuk merawat rumah itu. Karena itu itu sebelum menempatinya, kami harus melakukan kerja bakti terlebih dahulu. Mas Eko membabati semua tumbuhan liar dengan cangkul dan sabit. Sedangkan aku dan kedua anakku membersihkan sarang laba-laba dan debu yang menempel di jendela dan pintu, juga mengepel lantai secara beramai-ramai. Melelahkan sekali!

Setelah rumah bersih, aku segera pergi ke kamar mandi. Sambil berdendang riang, kuguyur tubuhku dengan air. Hmmm segarnya!

"Bu, cepetan dong!" Endi berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

"Sebentar!" jawabku sambil mengguyur badan.

Sekarang badanku benar-benar terasa segar. Setelah mengenakan pakaian, kubuka pintu kamar mandi. Klek klek ...kok, pintunya nggak  bisa dibuka.

"Bu, cepetan! Gimana sih Ibu ini!" Endi kembali berteriak.

"Pintunya nggak bisa dibuka!" sahutku. Heran, padahal kuncinya sudah kulepas.

"Kalau pintunya Ibu kunci tentu saja nggak bisa dibuka!"

"Ada apa, Ndi?" kudenar suara Mas Eko.

"Nggak tahu, kata Ibu pintunya nggak bisa dibuka."

"Mas, tolongin nih ...!" Aku mulai panik. Setelah beberapi kali kutarik gagang pintu dengan sekuat tenaga, pintu itu tak juga bisa dibuka.

Mas Eko mulai berusaha membuka pintu kamar mandi. Tampak dari selotnya yang kemudian nampak bergerak naik-turun, lalu disusul sedikit bergerak maju-mundur karena didorong.

"Nggak bisa! Terpaksa kita harus merusak pintu ini!" kata Mas Eko terdengar agak ngos-ngosan. "Ndi, coba ambil linggis di depan!"

Klek! Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras dari dalam pintu dan ... pintu itu terbuka sendiri!

"Aneh sekali," gumamku sambil melangkah keluar. "Jangan-jangan ..."

"Endi, cepat mandi. Setelah itu gantian Ayah!" potong suamiku.

Setelah Endi masuk kamar mandi, Mas Eko menarik tanganku. "Jangan membuat mereka ketakutan," katanya setengah berbisik.

"Tapi ini memang aneh sekali, Mas ..."

"Aku tahu, tapi kita harus menyembunyikan ini di depan anak-anak. Kecuali jika kamu ingin mereka tidak mau tinggal di rumah ini. Siapa yang susah? Ingat, kita sudah membayar uang kontrakan ini. Sesuai perjanjian, bila kita yang membatalkan, maka separuh dari uang yang telah kita serahkan akan hilang. Ibu mau itu?"

Hatiku sedikit terhibur, karena kejadian seperti itu hanya aku yang mengalaminya. Akhirnya aku menganggap apa yang kualami itu hanyalah hal biasa. Bukan seperti yang aku takutkan.

Hari Minggu berikutnya kami sudah menempati rumah kontrakan itu. Endi dan Iwan menempati kamar yang bersebelahan dengan ruang tengah, dekat kamar mandi. Sedangkan kamar yanga berada di samping kiri ruang tamu aku tempati bersama Mas Eko. Sementara, kamar  satunya yang terletak di dekat tangga loteng, sengaja kami biarkan kosong.

Setelah acara Berita Malam di TVRI, Mas Eko mengajakku tidur. Endi dan Iwan sudah masuk ke kamarnya satu jam yang lalu. Ini adalah malam pertama kami menempati rumah kontrakan. Hampir seharian aku dan Mas Eko menata rumah. Capek sekali! Makanya begitu mencium bau bantal, kami pun segera tertelap ke alam mimpi.

Aku terbangun oleh suara berisik yang berasal dari kamar mandi. Suara orang yang sedang mandi. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 1 lebih 10 menit. Siapa yang mandi di tengah malam begini? Endi atau Iwan rasanya tidak mungkin. Mereka tidak pernah mandi di waktu larut malam, apalagi dalam suhu yang dingin begini.

Mas Eko juga terbangun. Di malam yang hening seperti ini, suara dari kamar mandi itu terdengar  keras sekali. "Siapa sih yang di kamar mandi itu?" gumam mas Eko. "Malam-malam kok mandi. Coba Ibu lihat!"

"Ayah saja."

Suara itu sudah tak terdengar lagi. Mas Eko keluar kamar. Mendadak aku dicekam rasa takut yang amat sasngat. Segera kususul suamiku.

Pintu kamar anak-anakku tertutup rapat. Mas Eko membukanya. Nampak Endi dan Iwan tidur nyenyak sekali. Tak ada tanda-tanda sedikit pun jika mereka baru saja dari kamar mandi. Mas Eko memandangku sejenak, lalu melangkah ke arah kamar mandi. Mas Eko menyalakan listrik kamar mandi dan melihat ke dalam. Lantai porselin itu nampak kering! Aku dan Mas Eko kembali berpandangan. Segera saja kutarik lengan Mas Eko untuk kembali ke kamar tidur.
"Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian yang kualami dulu. Aku takut, Yah," kataku lirih sambil memeluk dada Mas Eko dan membenamkan wajah ke pundaknya..

"Tenanglah, besok aku akan menemui Pak Imam," Mas Eko berkata tenang. Tak ada nada ketakutan dari suaranya.

Kejadian aneh itu membuatku tak bisa memejamkan mata lagi. Pikiranku terus tertuju ke kamar mandi. Berkali-kali aku merengek-rengek agar Mas Eko tidak tidur lagi.

"Dulu Pak Imam membeli rumah ini dari seseorang yang sekarang tinggal di Kalimantan ikut anaknya. Pak Imam bilang kalau rumah ini memang ada hantunya," cerita Mas Eko sepulang dari rumah Pak Imam, pemilik rumah yang kami kontrak itu. Mendengar itu bulu kudukku langsung bergidik. "Tapi Ibu jangan takut, Ia tak suka mengganggu. Kalau pun mengganggu, paling cuma pada hari-hari pertama kita menempati rumah ini. Semua yang menempati rumah ini katanya juga pernah mengalami seperti yang kita alami semalam. Termasuk Pak Imam sendiri. Mungkin ini sebagai perkenalan ..."

Benar. Setelah peristiwa itu kami memang tidak pernah mengalami kejadian aneh lagi. Meski begitu, aku masih suka merasa ngeri bila berada di kamar mandi. Apalagi malam hari, aku tidak berani ke sana sendirian. (Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar