Sejak sebulan lalu Untung dan Ibu tinggal di kota, kerena mengikuti Ayah yang bekerja di sana. Bagi Untung, tinggal di kota ternyata tidak menyenangkan. Tiap hari ke sekolah jalan kaki sejauh 1 km. Capek sekali! Ayah dan Ibu ingin membelikan sepeda, tapi uangnya belum cukup.
Namun ada hal lain yang membuat Untung ingin kembali ke desa, ikut pamannya dan sekolah lagi di sana. Sejak tinggal di kota, Untung merasa namanya sangat jelek. Karena itu teman-temannya suka mengejek. Mereka suka menyebut-nyebut nama Untung. Bukan untuk memanggilnya, melainkan sekedar menggoda Untung dengan namanya,
"Untung kemarin aku belajar, kalau tidak?"
"Sama. Untung kemarin aku tidak jadi nonton film."
"Kita benar-benar untung ya hari ini?"
Itu baru sebagian kecil yang menggoda Untung dengan menggunakan namanya. Ucapan itu sengaja dikeras-keraskan agar Untung mendengar. Untung kesal sekali!
"Biarkan saja. Nanti kalau sudah bosan mereka akan berhenti sendiri," Iwan teman sebangkunya mencoba menghiburnya.
Tapi sampai kapan mereka bosan?
"Tung, Ayah memberi nama Untung, bukan asal memberi. Lama Ayah berpikir sebelum mengambil nama itu. Untung artinya beruntung. Dengan nama itu Ayah berharap hidupmu akan selalu beruntung. Bejo, begitu kata orang Jawa," kata Ayah ketika Untung minta agar namanya diganti.
"Sudahlah, jangan hiraukan teman-temanmu. Ingat Tung, seseorang itu dihargai bukan dari namanya, tapi dari kepandaian dan budi pekertinya ..."
Untung sudah berusaha bersikap seperti yang Ayah katakan. Tapi rasa malu dan rendah diri itu masih saja menghinggapi perasaannya.
"Tung, Untung ...!" terdengar panggilan dari balik pintu kamar. Untung tersadar dari lamunan. Ia bergegas bangkit dari pembaringan dan membuka pintu.
"Ada apa, Yah?"
"Kamu tahu jalan Hayam Wuruk?"
"Kenapa, Yah?"
"Ayah menemukan dompet ini di depan rumah makan Asri. Besok sepulang sekolah antarkan dompet ini kepada pemiliknya. Ayah tidak bisa mengantarkanya sendiri karena pekerjaan Ayah menumpuk. Banyak jahitan yang harus segera diselesaikan. Alamatnya ada di KTP dalam dompet ini. Ingat, jangan sampai isinya berkurang!" Ayah menyerahkan dompet berwarna hitam itu dan berlalu.
Untung melongok isinya. Matanya terbelalak. Selain beberapa surat berharga, dalam dompet itu terdapat berlembar-lembar uang seratus ribuan. Hatinya jadi bersorak gembira.
Begitu menerima dompet ini, pasti pemilinya akan gembira sekali. Sebagai ucapan terima kasih, orang itu tentu akan memberiku hadiah. Jika berupa uang, akan aku gunakan untuk menambah uang Ayah yang kurang buat beli sepeda. Berpikir seperti itu, Untung menjadi bersemangat.
Alamat rumah yang ada di KTP itu adalah sebuah rumah yang megah dan indah. Dari luar pagar nampak seseorang duduk di teras rumah sambil menghisap rokok. Karena pintu pagar terbuka, Untung langsung masuk.
"Pak, saya mau mengembalikan dompet ini," Untung menyodorkan dompet di tangannya. Tak lupa mengatakan bagaimana dompet itu ditemukan.
Sejenak orang itu memeriksa isi dompet. Dia tersenyum. "Terima kasih, ya. Oya, namamu siapa?"
Untung tidak segera menjawab. Ia merasa malu untuk menyebutkan namanya. Tiba-tiba terlintas sebuah nama yang dianggapnya modern dan keren. Rudy! Tapi ketika akan menyebutkan nama itu, ia ingat nasehat Ayah.
"Nama saya ... Un ... Untung, Pak." Orang itu nampak bersikap biasa. Tidak seperti teman-temannya yang selalu merasa geli setiap mendengar nama Untung disebut. "Saya sekolah di SD Sinar Harapan kelas enam."
"Ya, sudah. Terima kasih, ya."
Hanya itu? Untung menunggu sejenak, berharap orang itu memberikan hadiah. Namun Untung hanya bisa gigit jari. Ia pulang dengan kecewa.
Beberapa hari kemudian ...
"Tung, ada yang mencarimu," kata Edy, saat Untung sedang menyapu kelas sebelum bel masuk berbunyi.
"Siapa?"
"Aku tak tahu. Kamu ditunggu di depan pintu halaman sekolah. Orangnya keren, Tung. Pakai dasi dan bawa mobil sedan."
Siapa ya, pikir Untung sambil melangkah.
"Bapak mencari saya?" tanya Untung setelah berhadapan dengan orang yang dimaksud.
"Benar kamu yang bernama Untung?" Orang itu balik bertanya.
"Benar, Pak."
Orang itu tersenyum ramah. "Ini, Bapak mau menyampaikan hadiah buat kamu. Kamu kan yang mengembalikan dompet Bapak tempo hari? Waktu itu yang menerima adik Bapak. Terimalah ini." Orang itu menyodorkan sebuah amplop putih.
Untung mengucapkan terima kasih. Dan setelah orang itu pergi, ia membuka amplop di tangannya. Untung sangat girang. Amplop itu berisi dua lembar uang seratus ribuan! Sebuah sepeda langsung melintas di benaknya.
Ternyata benar. Ayah memberinya nama Untung supaya dia beruntung. Jika saat itu ia menyebutkan nama lain, pasti hari ini ia tidak akan beruntung.
Sekarang Untung tidak perlu merasa malu dengan namanya. Jika ada yang bertanya lagi siapa namanya, dengan tegas ia akan menjawab : Untung!
Namun ada hal lain yang membuat Untung ingin kembali ke desa, ikut pamannya dan sekolah lagi di sana. Sejak tinggal di kota, Untung merasa namanya sangat jelek. Karena itu teman-temannya suka mengejek. Mereka suka menyebut-nyebut nama Untung. Bukan untuk memanggilnya, melainkan sekedar menggoda Untung dengan namanya,
"Untung kemarin aku belajar, kalau tidak?"
"Sama. Untung kemarin aku tidak jadi nonton film."
"Kita benar-benar untung ya hari ini?"
Itu baru sebagian kecil yang menggoda Untung dengan menggunakan namanya. Ucapan itu sengaja dikeras-keraskan agar Untung mendengar. Untung kesal sekali!
"Biarkan saja. Nanti kalau sudah bosan mereka akan berhenti sendiri," Iwan teman sebangkunya mencoba menghiburnya.
Tapi sampai kapan mereka bosan?
"Tung, Ayah memberi nama Untung, bukan asal memberi. Lama Ayah berpikir sebelum mengambil nama itu. Untung artinya beruntung. Dengan nama itu Ayah berharap hidupmu akan selalu beruntung. Bejo, begitu kata orang Jawa," kata Ayah ketika Untung minta agar namanya diganti."Sudahlah, jangan hiraukan teman-temanmu. Ingat Tung, seseorang itu dihargai bukan dari namanya, tapi dari kepandaian dan budi pekertinya ..."
Untung sudah berusaha bersikap seperti yang Ayah katakan. Tapi rasa malu dan rendah diri itu masih saja menghinggapi perasaannya.
"Tung, Untung ...!" terdengar panggilan dari balik pintu kamar. Untung tersadar dari lamunan. Ia bergegas bangkit dari pembaringan dan membuka pintu.
"Ada apa, Yah?"
"Kamu tahu jalan Hayam Wuruk?"
"Kenapa, Yah?"
"Ayah menemukan dompet ini di depan rumah makan Asri. Besok sepulang sekolah antarkan dompet ini kepada pemiliknya. Ayah tidak bisa mengantarkanya sendiri karena pekerjaan Ayah menumpuk. Banyak jahitan yang harus segera diselesaikan. Alamatnya ada di KTP dalam dompet ini. Ingat, jangan sampai isinya berkurang!" Ayah menyerahkan dompet berwarna hitam itu dan berlalu.
Untung melongok isinya. Matanya terbelalak. Selain beberapa surat berharga, dalam dompet itu terdapat berlembar-lembar uang seratus ribuan. Hatinya jadi bersorak gembira.
Begitu menerima dompet ini, pasti pemilinya akan gembira sekali. Sebagai ucapan terima kasih, orang itu tentu akan memberiku hadiah. Jika berupa uang, akan aku gunakan untuk menambah uang Ayah yang kurang buat beli sepeda. Berpikir seperti itu, Untung menjadi bersemangat.
Alamat rumah yang ada di KTP itu adalah sebuah rumah yang megah dan indah. Dari luar pagar nampak seseorang duduk di teras rumah sambil menghisap rokok. Karena pintu pagar terbuka, Untung langsung masuk.
"Pak, saya mau mengembalikan dompet ini," Untung menyodorkan dompet di tangannya. Tak lupa mengatakan bagaimana dompet itu ditemukan.
Sejenak orang itu memeriksa isi dompet. Dia tersenyum. "Terima kasih, ya. Oya, namamu siapa?"
Untung tidak segera menjawab. Ia merasa malu untuk menyebutkan namanya. Tiba-tiba terlintas sebuah nama yang dianggapnya modern dan keren. Rudy! Tapi ketika akan menyebutkan nama itu, ia ingat nasehat Ayah.
"Nama saya ... Un ... Untung, Pak." Orang itu nampak bersikap biasa. Tidak seperti teman-temannya yang selalu merasa geli setiap mendengar nama Untung disebut. "Saya sekolah di SD Sinar Harapan kelas enam."
"Ya, sudah. Terima kasih, ya."
Hanya itu? Untung menunggu sejenak, berharap orang itu memberikan hadiah. Namun Untung hanya bisa gigit jari. Ia pulang dengan kecewa.
Beberapa hari kemudian ...
"Tung, ada yang mencarimu," kata Edy, saat Untung sedang menyapu kelas sebelum bel masuk berbunyi.
"Siapa?"
"Aku tak tahu. Kamu ditunggu di depan pintu halaman sekolah. Orangnya keren, Tung. Pakai dasi dan bawa mobil sedan."
Siapa ya, pikir Untung sambil melangkah.
"Bapak mencari saya?" tanya Untung setelah berhadapan dengan orang yang dimaksud.
"Benar kamu yang bernama Untung?" Orang itu balik bertanya.
"Benar, Pak."
Orang itu tersenyum ramah. "Ini, Bapak mau menyampaikan hadiah buat kamu. Kamu kan yang mengembalikan dompet Bapak tempo hari? Waktu itu yang menerima adik Bapak. Terimalah ini." Orang itu menyodorkan sebuah amplop putih.
Untung mengucapkan terima kasih. Dan setelah orang itu pergi, ia membuka amplop di tangannya. Untung sangat girang. Amplop itu berisi dua lembar uang seratus ribuan! Sebuah sepeda langsung melintas di benaknya.
Ternyata benar. Ayah memberinya nama Untung supaya dia beruntung. Jika saat itu ia menyebutkan nama lain, pasti hari ini ia tidak akan beruntung.
Sekarang Untung tidak perlu merasa malu dengan namanya. Jika ada yang bertanya lagi siapa namanya, dengan tegas ia akan menjawab : Untung!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar