Sampai sekarang tidak ada yang tahu kucing itu milik siapa. Dia datang begitu saja. Sudah seminggu kucing itu tinggal di rumahku. Saat kucing itu datang, aku langsung menyukainya. Bulunya putih bersih dan tubuhnya gendut. Aku ingin memeliharanya, tapi sayang, Mama tidak setuju.
"Kamu ingat tidak kucing Bu Iwan? Coba pikir, bagaimana jika kucing itu seperti kucing Bu Iwan?"
Kucing Bu Iwan, tetangga sebelah, memang nakal dan menjengkelkan. Kucing itu sering masuk ke rumahku dan kencing di sembarang tempat. Bahkan, tidak jarang mencuri ikan goreng di atas meja makan.
"Tapi kucing ini nampak lain, Ma. Lihat, Ma ... dia jinak sekali ...," aku terus membujuk Ibu agar diperbolehkan memelihara kucing itu.
Hati Mama akhirnya luluh juga. "Baiklah.Mama izinkan kamu memelihara kucing itu. Tapi dengan syarat, kucing itu tidak boleh seperti kucing Bu Iwan. Jadi, jika ternyata nanti kucing itu seperti punya Bu Iwan, Mama akan membuangnya!"
Aku sangat girang. Kemudian kucing itu kuberi nama Manis. Aku sangat sayang padanya. Begitu sayangnya, sampai aku sering lupa waktu kalau sudah bermain-main dengan Manis. Bila bermain, salah satunya dengan menggunakan sebatang sapu lidi. Ujung sapu lidi itu aku gerakkan memutar-mutar dan Manis mengejarnya. Semakin cepat gerakan sapu lidi di tanganku, makin cepat pula Manis mengejarnya. Ketika gerakanku berhenti, Manis juga ikut berhenti mengejar. Tapi, tubuh Manis jadi sempoyongan kemudian terkapar di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Aku tertawa geli melihatnya.
"Adiii ... ganti baju dulu lalu makan!"
"Sebentar, Ma," sahutku saat sedang bermain-main dengan Manis. Sejak ada Manis, sepulang sekolah aku memang lebih suka langsung bermain-main dengan Manis, daripada ganti baju dan makan terlebih dahulu.
"Tadi Ibu menggoreng hati ayam!"
Aku menghentikan permainanku. "Sungguh, Ma?"
"Sudah, sekarang ganti baju seragammu dulu. Hati ayam gorengnya Mama taruh di atas meja makan. Jangan dihabiskan, bagi dengan Kak Ida."
"Asyiiik!"
Aku makan dengan lahap. Aku memang suka makan dengan lauk hati ayam goreng. Aku lebih suka makan lauk itu hanya dengan nasi putih saja. Tapi ...dua potong rasanya masih kurang. Aku ingin menyantap yang dua potong lagi. Aku berpikir sejenak ... Ah, biar saja kuhabiskan sekalian! Kalau Mama dan Kak Ida bertanya, aku tinggal bilang Manis telah mencurinya. Beres! Maka ... nyam, nyam, nyam! Dua potong hati ayam goreng masuk ke perutku lagi.
"Maaa ... hati ayam gorengnya di mana? Ini cuma ada ampela!" teriak Kak Ida sepulang sekolah.
Mama keluar kamarnya menuju ruang makan. Beliau heran, dua hati ayam goreng bagian Kak Ida tidak ada di piringnya.
"Ah Mama ... mana berani Adi melakukannya, itu kan bagian Kak Ida," jawabku ketika Mama menanyakannya. "Mungkin saja telah dimakan Manis!"
"Apa!? Kucing jelek! Kalau tidak dihajar, bisa makin kurang ajar kucing itu nanti!" Kak Ida marah-marah. Ia lalu mengambil sapu untuk menghajar Manis.
"Sudah, sudah Ida," larang Mama. "Sekarang makan dulu dengan ampela. Besok Mama belikan lagi ..."
Aku merasa lega karena Kak Ida dan Mama tidak lagi mempermasalahkan hati ayam goreng yang raib di tempatnya.
Sepulang sekolah, setelah mengganti baju dan makan kenyang, aku ingin bermain-main dengan Manis. Tapi aku tidak menemukan Manis di dalam rumah. Mungkin Manis lagi berada di luar rumah. Ah, biar saja. Sekarang enakan baca buku yang tadi kupinjam dari Amin di kamar. Tak lama aku membaca, kudengar Kak Ida pulang dari sekolah.
"Mamaaa ... hati ayam gorengnya di mana?!" terdengar teriakan Kak Ida dari ruang makan. "Pasti kucing jelek itu yang mencurinya lagi ..."
Sangat jelas suara Kak Ida yang lagi marah-marah. Mama berusaha menenangkannya. "Adiii!" teriak Mama kemudian.
Aku bergegas memenuhi panggilan Mama. "Ada apa, Ma?"
"Hati ayam goreng bagian Kak Ida hilang lagi, jangan bilang Manis yang memakannya ..."
"Ya tapi siapa lagi, Ma?"
"Nggak mungkin! Nggak mungkin Manis yang memakannya. Manis sudah Mama buang jauh ..."
"Hah!? Kok tega sih, Mama?"
"Bukankah sudah Mama bilang dari awal, jika ternyata Manis nakal, Mama akan membuangnya ..."
"Tapi ... tapi ... Manis tidak bersalah, Ma. Sebenarnya ... sebenarnya ... yang menghabiskan bagian Kak Ida Adi."
"Apa!?" pekik Kak Ida. "Rakus banget sih kamu!"
Mama menggeleng-geleng. "Kenapa kamu serakah sekali? Lihat, karena keserakahanmu Manis yang jadi korban ..."
Aku sedih dan menyesal sekali. Maafkan aku ya Nis ...
"Kamu ingat tidak kucing Bu Iwan? Coba pikir, bagaimana jika kucing itu seperti kucing Bu Iwan?"
Kucing Bu Iwan, tetangga sebelah, memang nakal dan menjengkelkan. Kucing itu sering masuk ke rumahku dan kencing di sembarang tempat. Bahkan, tidak jarang mencuri ikan goreng di atas meja makan.
"Tapi kucing ini nampak lain, Ma. Lihat, Ma ... dia jinak sekali ...," aku terus membujuk Ibu agar diperbolehkan memelihara kucing itu.Hati Mama akhirnya luluh juga. "Baiklah.Mama izinkan kamu memelihara kucing itu. Tapi dengan syarat, kucing itu tidak boleh seperti kucing Bu Iwan. Jadi, jika ternyata nanti kucing itu seperti punya Bu Iwan, Mama akan membuangnya!"
Aku sangat girang. Kemudian kucing itu kuberi nama Manis. Aku sangat sayang padanya. Begitu sayangnya, sampai aku sering lupa waktu kalau sudah bermain-main dengan Manis. Bila bermain, salah satunya dengan menggunakan sebatang sapu lidi. Ujung sapu lidi itu aku gerakkan memutar-mutar dan Manis mengejarnya. Semakin cepat gerakan sapu lidi di tanganku, makin cepat pula Manis mengejarnya. Ketika gerakanku berhenti, Manis juga ikut berhenti mengejar. Tapi, tubuh Manis jadi sempoyongan kemudian terkapar di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Aku tertawa geli melihatnya.
"Adiii ... ganti baju dulu lalu makan!"
"Sebentar, Ma," sahutku saat sedang bermain-main dengan Manis. Sejak ada Manis, sepulang sekolah aku memang lebih suka langsung bermain-main dengan Manis, daripada ganti baju dan makan terlebih dahulu.
"Tadi Ibu menggoreng hati ayam!"
Aku menghentikan permainanku. "Sungguh, Ma?"
"Sudah, sekarang ganti baju seragammu dulu. Hati ayam gorengnya Mama taruh di atas meja makan. Jangan dihabiskan, bagi dengan Kak Ida."
"Asyiiik!"
Aku makan dengan lahap. Aku memang suka makan dengan lauk hati ayam goreng. Aku lebih suka makan lauk itu hanya dengan nasi putih saja. Tapi ...dua potong rasanya masih kurang. Aku ingin menyantap yang dua potong lagi. Aku berpikir sejenak ... Ah, biar saja kuhabiskan sekalian! Kalau Mama dan Kak Ida bertanya, aku tinggal bilang Manis telah mencurinya. Beres! Maka ... nyam, nyam, nyam! Dua potong hati ayam goreng masuk ke perutku lagi.
"Maaa ... hati ayam gorengnya di mana? Ini cuma ada ampela!" teriak Kak Ida sepulang sekolah.
Mama keluar kamarnya menuju ruang makan. Beliau heran, dua hati ayam goreng bagian Kak Ida tidak ada di piringnya.
"Ah Mama ... mana berani Adi melakukannya, itu kan bagian Kak Ida," jawabku ketika Mama menanyakannya. "Mungkin saja telah dimakan Manis!"
"Apa!? Kucing jelek! Kalau tidak dihajar, bisa makin kurang ajar kucing itu nanti!" Kak Ida marah-marah. Ia lalu mengambil sapu untuk menghajar Manis.
"Sudah, sudah Ida," larang Mama. "Sekarang makan dulu dengan ampela. Besok Mama belikan lagi ..."
Aku merasa lega karena Kak Ida dan Mama tidak lagi mempermasalahkan hati ayam goreng yang raib di tempatnya.
Sepulang sekolah, setelah mengganti baju dan makan kenyang, aku ingin bermain-main dengan Manis. Tapi aku tidak menemukan Manis di dalam rumah. Mungkin Manis lagi berada di luar rumah. Ah, biar saja. Sekarang enakan baca buku yang tadi kupinjam dari Amin di kamar. Tak lama aku membaca, kudengar Kak Ida pulang dari sekolah."Mamaaa ... hati ayam gorengnya di mana?!" terdengar teriakan Kak Ida dari ruang makan. "Pasti kucing jelek itu yang mencurinya lagi ..."
Sangat jelas suara Kak Ida yang lagi marah-marah. Mama berusaha menenangkannya. "Adiii!" teriak Mama kemudian.
Aku bergegas memenuhi panggilan Mama. "Ada apa, Ma?"
"Hati ayam goreng bagian Kak Ida hilang lagi, jangan bilang Manis yang memakannya ..."
"Ya tapi siapa lagi, Ma?"
"Nggak mungkin! Nggak mungkin Manis yang memakannya. Manis sudah Mama buang jauh ..."
"Hah!? Kok tega sih, Mama?"
"Bukankah sudah Mama bilang dari awal, jika ternyata Manis nakal, Mama akan membuangnya ..."
"Tapi ... tapi ... Manis tidak bersalah, Ma. Sebenarnya ... sebenarnya ... yang menghabiskan bagian Kak Ida Adi."
"Apa!?" pekik Kak Ida. "Rakus banget sih kamu!"
Mama menggeleng-geleng. "Kenapa kamu serakah sekali? Lihat, karena keserakahanmu Manis yang jadi korban ..."
Aku sedih dan menyesal sekali. Maafkan aku ya Nis ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar