Terjemahan

Kamis, 18 Juli 2013

Presiden Yang Suka Menangis

Obahno adalah seorang presiden negara Nesia. Beliau sangat dicintai rakyatnya, sebab memiliki sifat adil dan bijaksana serta peduli pada nasib wong cilik. Tapi ada satu hal yang tidak berkenan di hati rakyatnya, Presiden Obahno sangat cengeng. Mudah menangis! Sedikit saja ada yang menyentuh perasaannya, maka segera bercucuran airmata. Kalau saja beliau orang kebanyakan, rakyat Nesia tak akan peduli, tapi beliau adalah seorang kepala negara.

Banyak kejadian yang membuat Presiden Obahno menangis. Salah satunya adalah saat tertangkapnya seorang penjahat yang sangat meresahkan warga ibukota. Ketika penjahat itu akhirnya dimasukkan ke dalam penjara, Presiden Obahno menangis tersedu-sedu. Padahal sebelumnya, beliau telah mengeluarkan sayembara bahwa barang siapa yang dapat menangkap penjahat itu, hidup atau mati, akan mendapat hadiah besar.

"Saya bukan menangisi orang itu, tapi saya menangisi keluarganya," jawab Presiden Obahno, ketika Ibu Negara menanyakan kenapa beliau menangis. "Dia punya keluarga. Kalau dia dipenjara, bagaimana dengan nasib anak istrinya? Siapa yang akan menghidupi mereka?"

Setelah mendapat penjelasan dari Ibu Negara bahwa keluarga penjahat itu telah mendapat uang santunan dari negara, Presiden Obahno pun berhenti menangis.

Sebenarnya jawaban Ibu Negara adalah bohong. Tapi untuk membujuk suaminya agar berhenti menangis, tak jarang Ibu Negara memang harus berbohong. Berbohong demi kebaikan!

Negara Nesia adalah negara yang sangat subur. Alamnya banyak memberikan kekayaan. Hal itulah yang menimbulkan rasa iri dari negara-negara lain. Salah satunya adalah negara Isia. Negara ini ingin menguasai negara Nesia. Perdana Menteri Isia kemudian mengirim surat kepada Presiden Nesia. Isinya meminta agar negara Nesia tunduk  kepada negara Isia. Jika tidak, maka negara Isia akan menyerang negara Nesia.

Surat itu tidak mendapat tanggapan dari Presiden Obahno. Perdana Menteri Isia menjadi murka. Dia segera mengirimkan pasukan perangnya untuk menyerang negara Nesia. Perang pun tak terelakkan.

Perang di mana-mana sama. Menimbulkan banyak korban! Ketika mendapat laporan itu, Presiden Obahno menangis tersedu-sedu. Bukan menangisi prajurit-prajurit yang gugur, tapi menangisi keluarga yang ditinggalkannya.

"Maaf Pak, mengenai nasib keluarga para prajurit yang telah gugur, Bapak tidak perlu mencemaskannya, sebab negara telah mengambil kebijakan bahwa mereka mendapat jaminan kesejahteraan selama hidup mereka. Sebab semua prajurit yang gugur dianggap oleh negara sebagai pahlawan," kata Wakil Presiden.

"Tapi apakah keluarga prajurit-prajurit negara Isia juga mendapat perlakuan yang sama?"

"Benar, Pak. Dalam hal ini pemerintah negara Isia juga memiliki kebijakan yang sama dengan negara kita."

Mendengar itu, Presiden Obahno berhenti menangis dan tersenyum lebar. Merasa lega dengan keterangan wakilnya.

Setelah berlangsung selama hampir sebulan, peperangan itu dimenangkan oleh negara Nesia. Untuk itu Presiden Obahno berniat mengadakan pesta. Dalam pesta itu, Presiden Obahno mengundang presiden-presiden dan pembesar-pembesar dari negara lain.

Semua gembira menyambut datangnya pesta itu. Tapi tidak dengan Ibu Negara. Beliau merasa cemas. Dalam pesta itu akan ada sambutan dari Presiden Obahno. Ibu Negara khawatir jika dalam penyambutan itu tiba-tiba Presiden Obahno menangis. Apa kata yang hadir nanti?

"Maaf Bu, menurut saya tidak ada lagi yang perlu ditangiskan oleh Bapak Presiden," kata Wakil Presiden, setelah mengetahui kecemasan Ibu Negara. "Mengenai perang dan akibatnya, bukankah sudah dijelaskan dan Bapak Presiden sudah bisa menerimanya?"

"Saya tahu, Pak. Tapi entah kenapa saya masih merasa cemas."

"Mudah-mudahan apa yang Ibu cemaskan tidak akan terjadi."

Saat pesta yang ditunggu pun tiba dan saatnya Presiden Obahno memberikan kata sambutan, "Hadirin sekalian, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadirannya. Saat ini adalah saat di mana kita bersenang-senang. Tapi tahukan saudara-saudara bahwa untuk acara semacam ini kita harus kehilangan banyak nyawa? Dan ...," Presiden Obahno tidak meneruskan ucapannya. Bola mata beliau berkaca-kaca, dan sebentar kemudian beliau mulai bercucuran airmata. Presiden Obahno menangis di depan orang banyak!

Ibu Negara buru-buru menghampiri suaminya. "Pak, kenapa menangis? Apa yang ditangisi?"

"Bagaimana aku tidak menangis, sekarang kita bersenang-senang, tapi bagaimana dengan para prajurit yang telah gugur? Tentu mereka sangat kesepian dan menderita di dalam kuburnya."

Ibu Negara sejenak tercenung mendengarnya. Lalu katanya, "Pak, semua prajurit yang telah gugur arwahnya diterima di sisi Tuhan. Jadi sekarang ini mereka tidak sedih, bahkan saat ini mereka lebih bahagia daripada kita ..."

"Benarkah begitu?"

"Benar, Pak. Bukankah itu yang telah diajarkan Tuhan kepada kita? Mereka semua mati syahid ..."

"Oh iya-iya, aku ingat," wajah Presiden Obahno menjadi berseri-seri. Beliau menyeka airmatanya dan kembali meneruskan sambutannya.

Sementara itu, dalam hati semua yang hadir merasa geli sekaligus terharu. Selama ini mereka memang sering mendengar cerita tentang kecengengan Presiden Obahno, tapi baru kali ini mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana presiden yang terkenal itu bercucuran airmata. Mereka sama memuji kelembutan hati Presiden Obahno. Yang sangat memiliki kepedulian, yang jarang dimiliki oleh pemimpin negara lain. (Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar