Tersebutlah seorang raja yang sangat senang mendengarkan dongeng. Karena itu, banyak orang berdatangan dari negeri yang jauh, khusus hanya untuk mendongeng bagi Raja. Setelah itu, Raja akan memberi mereka hadiah emas, perak, atau pakaian yang indah-indah.Pada suatu hari Raja berkata, "Aku ingin salah satu dari kalian mendongeng untukku. Tapi dongeng itu tidak boleh berakhir. Bagi yang bisa akan aku nikahkan dengan putriku dan menjadi raja menggantikan aku kelak. Tapi jika tidak, maka aku akan memasukkannya ke dalam penjara!"
Mendengar perkataan Raja, semua pendongeng berpikir keras untuk membuat dongeng yang tiada akhir.
Suatu hari datanglah seoerang pendongeng menghadap Raja. Katanya, "Baginda, hamba punya dongeng yang tidak ada akhirnya."
Raja tampak gembira. "Oh ya? Cepat dongengkan. Aku ingin mendengarnya!"
Orang itu pun mendongeng sepanjang hari, namun setelah itu selesailah dongengnya. Maka, sesuai pengumuman, dimasukkanlah orang itu ke dalam penjara.
Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pendongeng lain. "Baginda yang mulia, hamba akan mendongeng yang tiada akhirnya."
"Apakah kamu yakin dongengmu itu tiada akhirnya?"
"Yakin, Baginda."
Setelah dipersilakan, orang itu pun mulai mendongeng. Ia terus mendongeng tiada henti. Tapi setelah 3 hari, selesailah dongengnya. Orang itu pun akhirnya mengalami nasib yang sama dengan pendongeng sebelumnya.
Beberapa hari setelah itu, datanglah seseorang menghadap Raja dan berkata, "Baginda, hamba punya dongeng yang tiada akhirnya ..."
"Cepat dongengkanlah untukku. Aku ingin mendengarnya," jawab Raja. "Tapi ingat, bila kau tidak memenuhi janji, kau akan dipenjara seperti lainnya."
Maka dengan penuh keyakinan, mendongenglah orang itu. Tapi setelah mendongeng selama seminggu, ternyata dongengnya berakhir. Akhirnya, ia pun dimasukkan ke dalam penjara.
Tak lama kemudian, datang pendongeng lain menghadap Raja. Setelah mendongeng selama 6 bulan, dongengnya pub berakhir. Ia masuk penjara. Pendongeng lainnya pun mengalami nasib yang sama. Setelah mendongeng selama setahun terus menerus, dongengnya berakhir dan ia juga masuk penjara.
Suatu siang, ketika Raja sedang duduk di atas singgasana, datanglah seorang yang bukan pendongeng, melainkan seorang petani. Pengawal istana tidak mengijinkannya masuk. Karena pakaian petani itu sangat kumal. Namun petani itu memaksa dan berkata ingin mendongeng yang tiada akhirnya ...
Raja yang mengetahui keributan itu segera menghampiri mereka. Setelah mendengar penjelasan para pengawal, Raja berkata, "Kamu boleh mendongeng. Tapi ingatlah, jika dongengmu berakhir, kamu akan kumasukkan ke penjara!"
Petani itu mengangguk.
"Baik, dongengkanlah sekarang," titah Raja.
Maka mulailah si petani mendongeng. "Pada jaman dahulu, hiduplah seorang raja yang kejam. Dia suka merampas harta rakyat dan menyiksa mereka tanpa sebab. Kemudian raja itu memerintahkan rakyatnya membangun sebuah lumbung yang besaaar sekali. Besarnya melebihi lapangan kota, bahkan lebih besar lagi. Lumbung itu diisi dengan berbagai macam biji-bijian dan kacang-kacangan. Seperti padi, jagung, kurma, kacang tanah dan sebagainya. Semua itu dikumpulkan dari hasil panen rakyatnya.
Setelah semua dimasukkan, lumbung ditutup seluruhnya tanpa ada pintu atau jendela untuk masuk. Tapi walau semua sudah tertutup rapat, ternyata masih ada satu celah kecil. Celah itu hanya cukup dimasuki oleh seekor semut.Suatu hari penduduk melihat semut datang berbondong-bondong dari segala penjuru negeri. Dari atas, bawah, utara, selatan, timur, barat, tenggara, barat laut ... Pendeknya semut-semut di negeri itu datang dari segala arah menuju satu tujuan, yaitu lumbung sang raja.
Semut-semut itu berkumpul mengelilingi lumbung. Kemudian seperti telah mendapat pengarahan, masuklah seekor semut ke dalam lumbung melalui celah kecil. Ia lalu keluar sambil membawa satu butir biji-bijian. Lalu disusul oleh seekor semut yang lain, masuk dan keluar membawa satu biji. Masuk lagi seekor semut, keluar membawa satu biji ..."
Demikianlah, petani itu mengulang-ulang kalimat yang sama selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Raja sampai bosan mendengarnya. Karena itu Raja bertanya kepada si petani, "Kemudian apa yang terjadi?"
"Kita harus menyelesaikan semut-semut ini dulu Baginda," jawab si petani, lalu melanjutkan kembali dongengnya. "Masuk lagi seekor semut, keluar membawa satu biji ..." begitu seterusnya.
"Kemudian apa yang terjadi?"
"Sabarlah, Baginda."
Akhirnya Raja merasa lelah mendengar dongeng itu. Katanya, "Cukup, cukup! Aku tidak mau mendengar kelanjutan dongengmu! Dongengmu memang tiada akhirnya!"
Tak lama kemudian Raja mengadakan pesta pernikahan bagi petani dan sang putri. Sekaligus mengangkat petani itu menjadi pengganti Raja. (Dari At Tarbiyah Fil Qishah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar