Terjemahan

Sabtu, 20 Juli 2013

Ketika Dewi Pingsan

Namanya Pak Bronto. Lelaki setengah baya itu bertubuh tinggi besar dan brewokan. Ia tinggal di rumah seberang jalan, di depan rumah Dewi. Beberapa tahun lalu ia melakukan kejahatan yang kemudian membuatnya terjeblos dalam penjara. Merampok! Dan dua hari lalu ia bebas.

Dewi merasa was-was. Sementara Ayah dan Ibu masih berada di kantor, di rumah ia hanya tinggal berdua dengan Mbok Nah. Jika Pak Bronto punya niat jahat, apa yang bisa ia dan Mbok Nah perbuat? Apalagi, konon dalam melakukan kejahatannya, Pak Bronto tak segan-segan bertindak kasar kepada korbannya. Dewi makin ngeri saja pada lelaki itu.

Itulah yang membuat Dewi tidak berani tinggal di rumah. Sepulang sekolah, setelah mengganti pakaian seragam dan makan, ia segera pergi ke rumah Desy, teman sebangkunya di kelas. Ia baru berani pulang sore hari, ketika Ayah dan Ibu sudah pulang kerja.

"Kalau Pak Bronto memang punya niat jahat, bukankah tindakanmu ini akan membuatnya leluasa untuk melakukan kejahatan?" tanya Mas Anton, kakak Desy. "Menurut Kakak, kamu pulang saja. Tunggui rumah. Kalau tidak berani, biar Kakak yang menemani. Jangan takut, kalau Pak Bronto macam-macam, Kakak yang akan menghadapinya!"

Kata-kata Mas Anton sangat meyakinkan Dewi. Nampaknya Mas Anton memang bisa diandalkan. Selain tubuhnya juga tinggi besar, Mas Anton jago karate. Kata Desy, sekarang kakaknya itu sudah menyandang sabuk hitam. Sabuk tingkat tertinggi dalam seni beladiri.

"Kenapa kamu berpikiran buruk begitu pada Pak Bronto?" tanya Ayah, setelah tahu alasan Dewi yang tidak berani tinggal di rumah hanya bersama Mbok Nah. "Kekhawatiranmu itu sangat berlebihan. Pak Bronto memang pernah berbuat jahat, tapi apa hanya karena itu ia harus selalu dicurigai? Siapa tahu Pak Bronto sekarang sudah berubah."

"Benar, Wi," sahut Ibu. "Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari masa lalunya."

Dewi hanya diam. Dalam hati  membenarkan ucapan Ayah dan Ibu. Tapi entah kenapa rasa takut itu masih saja menghinggapi perasaannya.

Sebuah mobil box berhenti di depan rumah Dewi. Dua orang lelaki keluar dari mobil itu dan memasuki halaman rumah Dewi. Kepada Mas Anton mereka mengaku dari sebuah perusahaan elektronik. Kedatangan mereka untuk memperkenalkan produk terbaru perusahaannya.

"Mari silakan masuk," kata Mas Anton kepada dua orang lelaki itu.

Namun, baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, salah seorang dari mereka tiba-tiba menyergap Mas Anton dari belakang sambil menyumbat mulut dan hidung Mas Anton dengan saputangan. Hanya sesaat Mas Anton berusaha berontak, saat berikutnya ia terkulai lemas dan tidak sadarkan diri. Orang itu membius Mas Anton dengan obat bius.

"Diam jika ingin selamat!" ancam temannya sambil menempelkan ujung belati di leher Dewi. Tubuh gadis kelas 6 itu langsung gemetar ketakutan.

Mbok Nah yang tiba-tiba muncul dari belakang setelah mendengar keributan di ruang depan, langsung disergap. Ia juga terkulai tak sadarkan diri tak jauh dari Mas Anton, setelah mulut dan hidungnya disumbat dengan saputangan. Selanjutnya Dewi tak tahu apa yang kemudian terjadi, seusai orang yang mengancamnya dengan belati membiusnya.

Setelah siuman, Dewi mendapati dirinya terbaring di ranjang kamarnya. Wajahnya nampak kebingungan. "Kenapa saya?" gumamnya.

"Seseorang telah membuatmu pingsan," jawab Ayah yang duduk di tepi ranjang. "Untung ada Pak Bronto. Kalau tidak entah apa jadinya."

Dewi menoleh kepada Pak Bronto yang duduk di kursi di dekat Ayah.

"Tadi ketika bapak pulang dari pasar, bapak melihat ada mobil di rumah Dewi,' kata Pak Bronto. "Seorang lelaki yang tidak bapak kenal keluar dari rumah Dewi sambil membawa televisi dan emamsukkannya ke dalam mobil itu. Bapak jadi curiga, lalu masuk ke rumah Dewi. Waktu bapak bertanya kepada orang itu, bukannya menjawab, orang itu dibantu temannya langsung menyerang bapak. Untung bapak bisa membela diri. Mereka berhsil bapak ringkus. Mereka bermaksud menguras semua barang berharga yang ada di rumah Dewi ..."

Sekarang Dewi ingat semuanya. "Gimana dengan Mas Anton dan Mbok Nah?"

"Mereka sudah siuman. Mas Anton sudah pulang," jelas Ayah.

Terdengar mobil berhenti di depan rumah Dewi. Pak Bronto keluar untuk melihat siapa yang datang. Sebentar kemudian ia kembali lagi bersama dua orang polisi.

Ayah nampak heran dengan kedatangan dua orang polisi itu. "Ada apa, Pak?" tanyanya seraya berdiri.

"Kami mendapat tugas untuk menangkap saudara Anton," jawab salah seorang polisi.

Dewi, Ayah dan Pak Bronto terkejut. Mereka saling pandang.

"Memang kenapa, Pak?" Ayah yang bertanya.

"Setelah kami interogasi, kedua pemuda itu mengaku bahwa yang mereka lakukan adalah inisiatif saudara Anton. Sekarang di mana dia?"

Ayah menjelaskan siapa sebenarnya Anton. Selanjutnya Ayah mengantar kedua polisi itu ke rumah Anton. Tapi Anton tidak ada di rumah. Menurut keterangan ibunya, setelah pulang dari rumah Dewi, Anton segera pergi lagi.

Sekarang Dewi tahu siapa sebenarnya Mas Anton. Mas Anton yang dianggapnya baik ternyata berhati jahat. Sebaliknya, Pak Bronto yang selalu dicurigainya, ternyata justru menjadi penolongnya. Dewi merasa malu telah berprasangka buruk pada Pak Bronto. (Gambar hanya sebagai ilustrasi dan bukan yang sebenarnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar